“Kami khawatir bila tidak ada yang melanjutkan, suatu saat tak akan ada lagi yang mampu menempa keris seperti para leluhur dahulu,” jelasnya.
Acara jamasan tahun ini digelar oleh Pemkab Sumenep bekerja sama dengan komunitas Pelestari Budaya Leluhur Desa Aeng Tongtong 'Pelar Agung'.
Selain prosesi penyucian pusaka, kegiatan tersebut juga menghadirkan diskusi sejarah keris, termasuk masa ketika kepemilikan keris sempat dilarang dalam sejarah Indonesia.
“Tidak hanya jamasan, tetapi juga edukasi mengenai perjalanan keris, supaya masyarakat, khususnya generasi muda, memahami bahwa keris bukan sekadar senjata, tetapi lambang peradaban,” pungkas Bupati Fauzi.***