“Para empu di Aeng Tongtong aktif membagikan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada generasi muda. Ini adalah bentuk nyata komitmen mereka dalam merawat budaya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa jika tidak ada generasi yang mewarisi keahlian membuat keris, maka pusaka ini akan kehilangan makna dan hanya akan menjadi cerita masa lalu.
“Perlu ditumbuhkan rasa cinta terhadap keris di kalangan pelajar dan anak muda. Dengan begitu, akan ada kesinambungan antara masa lalu dan masa depan dalam tradisi perkerisan,” lanjutnya.
Lebih dari sekadar benda pusaka, keris disebut Bupati Fauzi sebagai simbol kepribadian dan refleksi kebudayaan yang mendalam. Melalui prosesi jamasan, diharapkan muncul bibit-bibit muda yang terinspirasi untuk meneruskan jalan para empu.