Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, turut memberikan pandangannya. Ia menilai, festival hadrah ini bukan hanya usaha pelestarian bentuk seni tradisional, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat makna filosofisnya.

"Di tengah gempuran budaya global, hadrah menjadi jangkar yang mengikat identitas lokal. Ini ruang kolektif untuk merenung dan mengenali kembali siapa kita," kata Imam.

Ia juga menyambut baik munculnya banyak kelompok hadrah baru yang digerakkan anak muda berusia 15 hingga 25 tahun. Bahkan beberapa di antaranya berasal dari sekolah umum dan komunitas non-pesantren.

"Mereka membawakan hadrah dengan gaya yang lebih segar, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dan spiritual. Bagi mereka, hadrah adalah tempat untuk mengenal diri," lanjutnya.

Selain menampilkan pertunjukan seni, festival ini juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga. Sejumlah pelaku UMKM dilibatkan dalam stan pameran yang menampilkan produk lokal mulai dari kuliner tradisional, batik tulis khas Madura, minyak atsiri, hingga kerajinan tangan berbahan bambu.