Sementara itu, Moh. Iksan, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, menuturkan bahwa seni hadrah memiliki akar yang dalam dalam tradisi Islam lokal.
“Hadrah di Madura lahir dari tradisi pesantren dan tarekat, tapi kini fungsinya meluas sebagai media ekspresi sosial. Ia hadir dalam berbagai acara, mulai dari peringatan Maulid Nabi, pernikahan, hingga aksi damai,” terangnya.
Lebih lanjut, Iksan menjelaskan, bahwa hadrah bukan hanya soal musik, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam.
“Ia adalah cara masyarakat membangun keselarasan dengan Sang Pencipta, dengan sesama, dan dengan alam sekitar,” ungkapnya.