“Intinya, semua program yang dijalankan pemerintah bermuara pada satu hal: peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, kami ingin mencetak pemuda yang mampu mandiri secara ekonomi melalui dunia usaha,” tutur Wakil Bupati.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Mohammad Iksan, merinci jumlah peserta dalam setiap jenis pelatihan. Menurutnya, pelatihan kripik singkong diikuti oleh 30 orang, pelatihan ecoprint dan menjahit sebanyak 15 orang, pelatihan pengolahan VCO sebanyak 25 orang, serta pelatihan angkringan dan pemasaran yang diikuti oleh 30 peserta.
“Peserta terdiri dari santri aktif, alumni, serta tenaga yang selama ini berkiprah di lingkungan pondok pesantren. Semua diarahkan untuk menjadi wirausahawan yang mandiri dan memiliki daya saing tinggi,” tandasnya.***