Ia menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi media jejaring antar santri dan alumni yang telah atau sedang mengembangkan unit usaha, baik secara mandiri maupun kolektif. Menurutnya, program tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi berbasis pesantren, serta mendorong lahirnya pelaku usaha mandiri yang kompetitif di era digital.

“Kami tidak ingin para santri hanya berkutat pada ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki orientasi kewirausahaan, agar kelak mampu membuka usaha sendiri bahkan menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” tegasnya.

Dalam pelatihan tersebut, para santri dibekali berbagai keterampilan praktis seperti membuat kripik singkong, ecoprint dan menjahit, mengolah air kelapa menjadi VCO (Virgin Coconut Oil), serta mengelola usaha angkringan berikut strategi pemasarannya. Kegiatan ini tersebar di beberapa pesantren yang menjadi mitra pelaksanaan program.

Dengan pelatihan ini, pondok pesantren didorong untuk lebih mengoptimalkan potensi sumber daya manusia yang mereka miliki. Santri dan pengelola lembaga didorong berinovasi dan melakukan pengembangan produk unggulan melalui manajemen dan produksi yang lebih profesional.