“Jabatan tak perlu dikejar mati-matian, tetapi sebagai abdi negara kita harus siap ditempatkan di posisi manapun,” ujarnya dalam sebuah perbincangan bersama pewarta, Rabu (30/4).
Pernyataan sederhana ini memperlihatkan prinsip pengabdian yang menjadi fondasi sikap profesionalnya.
Yudha merupakan perpaduan antara teknokrat yang matang, pemimpin lapangan yang kenyang pengalaman, dan administrator yang piawai membaca situasi politik. Dalam konteks reformasi birokrasi, sosok seperti dia layak diberi ruang lebih besar.
Kini, ketika Kabupaten Sumenep bersiap menentukan pemimpin baru di jajaran tertinggi ASN, nama Yanuar Yudha Bachtiar hadir sebagai salah satu figur alternatif, bukan favorit utama, tapi kuda hitam yang siap mencetak kejutan.***