"Jika UMKM ingin tetap bertahan dan berkembang, mereka harus mampu beradaptasi dengan tren pasar. Menggunakan strategi pemasaran modern serta menjaga keunikan produk bisa menjadi kunci. Persaingan bukan hanya soal harga, tetapi juga soal pengalaman dan kualitas yang diberikan kepada pelanggan," tegasnya.

Andi juga mempertanyakan apakah UMKM di Sumenep mampu bersaing dengan kehadiran Mie Gacoan atau justru akan banyak yang mengalami kesulitan.

"Ketika konsumen mulai terbiasa dengan konsep dan cita rasa Mie Gacoan, mereka bisa saja menganggap warung mie tradisional kurang menarik atau ketinggalan zaman. Ini berpotensi menurunkan minat terhadap varian mi khas daerah yang dijual oleh UMKM," jelasnya.

Meski demikian, ia menambahkan, bahwa UMKM lokal masih memiliki peluang bertahan dengan menerapkan strategi diferensiasi.

"Misalnya, dengan menghadirkan cita rasa khas daerah, memberikan pelayanan yang lebih personal, atau menciptakan konsep unik yang sulit ditiru oleh jaringan restoran besar. Pertanyaannya sekarang, mampukah UMKM lokal kita menghadapi tantangan ini?," pungkasnya penuh heran.***