Menurutnya, bahasa Madura yang kini mulai terkikis dengan bahasa campuran atau kontemporer bahasa Indonesia, juga bisa dilihat dari aspek sosial dari perilaku kehidupan masyarakat.

"Sebab tidak hanya bahasanya, tetapi juga menyangkut aspek perilaku dan lainnya. Apalagi Sumenep-Madura, Solonya Madura, ini yang harus pertahankan bagaimanapun harus dijaga," jelasnya.

Sebab itu, Ramdlan mengakui, Sumenep yang memiliki bahasa terhalus ketimbang tiga Kabupaten lain di Madura, lebih bisa memperbaiki dari sektor pendidikan di Sumenep.

"Di Sumenep ada (Nabara, pembinaan bahasa Madura, red) itu ngelink dengan lembaga pendidikan. Ya kuncinya ada di Dinas Pendidikan. Di Sumenep, sukunya tidak hanya Sumenep, tapi banyak. Pastinya memiliki bahasa yang berbeda," tuturnya.