Padahal menurut Faruk, sekolah tersebut memiliki guru olahraga yang memiliki keahlian dan kopetensi dalam mendampingi siswa berolah raga ke pantai. Ia pun mengaku heran, kenapa bukan guru olahraga itu yang yang ditunjuk sebagai pendamping.

Faruk mengaku semakin geram saat mengetahui Kepala SDN Aenganyar I, AK, juga tidak berada di sekolah saat kejadian. Apalagi AK beralasan menghadiri rapat di daratan, padahal waktu kejadian merupakan hari Sabtu yg merupakan hari libur kantor.Terlebih pengawas sekolah tidak membenarkan adanya rapat di daratan.

“Bagi saya ini jelas seperti skenario,” tegas mantan jurnalis senior Sumenep itu.

Selain itu, kata Faruk, pengelola Pantai Sembilan mestinya juga mengusir anak-anak ketika diketahui tidak membawa tiket, apalagi tidak didampingi guru pembimbing. Ia cukup menyayangkan sikap cuek tersebut.