BANGKALAN, MaduraPost - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendorong penguatan seni dan kebudayaan sebagai bagian dari upaya membangun identitas serta citra positif masyarakat Madura. Perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Pesan tersebut disampaikan Rektor UTM, Prof. Safi’ dalam kegiatan pergelaran seni dan budaya Terak Bulan di Taman Kampus UTM, yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-495 Kabupaten Bangkalan.

Menurut Prof. Safi’, seni dan budaya tidak seharusnya hanya dipandang sebagai warisan masa lalu atau sekadar pertunjukan hiburan. Lebih dari itu, kebudayaan merupakan instrumen penting untuk memperkuat identitas masyarakat, membangun karakter generasi muda, dan memperkenalkan kekayaan daerah kepada masyarakat luas.

Ia menilai, Madura memiliki potensi seni dan budaya yang tidak kalah menarik dibandingkan daerah lain di Indonesia. Karena itu, ruang-ruang ekspresi kebudayaan perlu terus diperluas agar masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki kesempatan untuk menunjukkan kreativitas dan karya mereka.

“Kita tunjukkan bahwa Madura tidak seperti itu. Kita tunjukkan dengan karya seni dan budaya yang kita miliki,” ujar Prof. Safi’. Sabtu (31/10/2026).

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk melawan stereotip negatif terhadap Madura yang kerap berkembang di ruang digital.

Menurutnya, citra suatu daerah tidak cukup dibangun melalui narasi, tetapi harus diperkuat dengan perilaku positif, prestasi, dan karya nyata masyarakatnya.

Melalui Tera' Bulan, UTM menghadirkan ruang pertemuan berbagai kelompok seni, baik dari lingkungan internal maupun eksternal kampus.

Kegiatan tersebut juga menampilkan keberagaman budaya Nusantara melalui kreativitas mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah.

Prof. Safi’ menegaskan, keberlanjutan kebudayaan sangat bergantung pada hubungan yang terjaga antara generasi tua dan generasi muda. Keterputusan antargenerasi dapat menyebabkan nilai, pengetahuan, dan tradisi kehilangan ruang pewarisan.

“Tidak mungkin kemajuan bisa diraih kalau ada keterputusan hubungan antara generasi masa lalu dengan generasi masa kini,” ungkapnya.

Selain penguatan kebudayaan, Rektor UTM juga memaparkan perkembangan institusi yang kini memasuki usia ke-25 tahun. Salah satu capaian penting adalah dibukanya Fakultas Kedokteran yang telah memulai proses pembelajaran.

Ia juga menyampaikan bahwa UTM berada di peringkat ke-41 nasional dari sekitar 4.400 perguruan tinggi di Indonesia. Sementara dalam kategori Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU), UTM menempati posisi kelima.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bangkalan dan Madura. Keberadaan UTM bukan hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga bagian dari penguatan reputasi daerah di tingkat nasional maupun internasional.

Namun, pengembangan perguruan tinggi membutuhkan dukungan lingkungan yang memadai. Prof. Safi’ turut menyoroti kondisi akses jalan dari Jembatan Suramadu menuju kampus serta persoalan keamanan mahasiswa yang masih menjadi perhatian.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bangkalan, kepolisian, sivitas akademika, dan masyarakat dapat memperkuat sinergi untuk menciptakan lingkungan yang aman sekaligus mendukung perkembangan pendidikan.

Melalui momentum Hari Jadi ke-495 Kabupaten Bangkalan, UTM berharap kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat semakin kuat.

Pergelaran Tera' Bulan menjadi salah satu wujud kontribusi kampus dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendorong lahirnya generasi yang kreatif, berkarakter, dan memiliki kebanggaan terhadap daerahnya.

Bagi UTM, kemajuan daerah tidak hanya diukur melalui pembangunan fisik dan capaian ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat menjaga identitas, merawat kebudayaan, serta membangun hubungan harmonis antargenerasi.***