Meski demikian, hingga kini belum ada hasil pemeriksaan yang dapat memastikan terjadinya kesalahan medis dalam penanganan Firman. Kritik Zamrud merupakan desakan agar kasus tersebut dijelaskan secara terbuka, bukan kesimpulan bahwa rumah sakit telah terbukti melakukan pelanggaran.
Pada hari yang sama, awak media juga mendatangi kantor Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep untuk meminta perkembangan penanganan kasus tersebut.
Sebelumnya, Kepala Dinkes P2KB Sumenep, dr. Elliya Fardasah, menyatakan masih perlu memastikan informasi kepada jajaran dinas sebelum memberikan komentar lebih jauh. Namun, saat kembali dihubungi melalui telepon, yang bersangkutan belum merespons.
Ketika wartawan mendatangi kantornya, petugas resepsionis menyampaikan bahwa Elliya sedang berada di luar kota bersama keluarganya dan telah pergi sejak beberapa hari sebelumnya.
“Di luar kota, sama keluarganya, sudah sejak beberapa hari yang lalu, dari Yogyakarta lanjut ke agenda lain,” tutur petugas resepsionis.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan lebih lanjut dari Dinkes P2KB Sumenep mengenai langkah yang akan dilakukan terkait kematian Firman.
Penyebab kematian Firman juga belum dijelaskan secara medis kepada publik. Hasil investigasi internal BHC yang dapat memastikan ada atau tidaknya kekeliruan dalam penanganan pasien belum disampaikan.
Keterangan resmi dari manajemen BHC, MH Said Abdullah, dan Dinkes P2KB Sumenep masih diperlukan untuk menjawab pertanyaan keluarga serta kritik yang berkembang di masyarakat.
Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak terkait demi memastikan pemberitaan mengenai kasus tersebut tetap berimbang dan berbasis fakta.***