Ketika ditanya kapan jajaran manajemen dapat ditemui kembali, Fauroq mengaku belum mengetahui jadwal kepulangan mereka.

“Tidak tahu kalau itu, soalnya tidak menentu waktunya,” katanya.

Informasi tersebut belum menjelaskan agenda pemanggilan manajemen ke Surabaya maupun kaitannya dengan persoalan kematian Firman. Belum ada pula keterangan resmi dari MH Said Abdullah mengenai agenda tersebut.

Sebagai sosok yang disebut memiliki BHC Sumenep, MH Said Abdullah menjadi salah satu pihak yang perlu dimintai penjelasan mengenai respons institusi terhadap persoalan yang menyangkut keselamatan pasien.

Keberadaan jajaran manajemen di luar kota tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya upaya menghindari wartawan. Namun, absennya pihak yang berwenang memberikan keterangan membuat pertanyaan mengenai pelayanan Firman belum terjawab melalui konfirmasi langsung.

Upaya menghubungi direktur hingga bagian hubungan masyarakat dan pemasaran BHC melalui telepon serta pesan WhatsApp juga belum mendapatkan tanggapan hingga proses peliputan berlangsung.

Dalam kasus yang berkaitan dengan kematian pasien, penjelasan mengenai kronologi pelayanan, tindakan medis, serta perkembangan investigasi menjadi penting agar keluarga tidak hanya menerima informasi bahwa pemeriksaan masih berjalan.

Sebelumnya, perwakilan keluarga berinisial Y menyampaikan bahwa pihak BHC telah mendatangi rumah duka di Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, pada Jumat (16/10/2026). Dalam kunjungan itu, pihak rumah sakit menyampaikan belasungkawa dan permintaan maaf.

Namun, keluarga mengaku belum mendapatkan jawaban mengenai hasil pemeriksaan internal.