SAMPANG, MaduraPost – Penyajian menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Dapur Yayasan Al-Aziz, Desa Bira Timur, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, menjadi sorotan setelah beredarnya foto paket makanan yang disajikan menggunakan kertas pembungkus.
Dalam foto tersebut, terlihat nasi putih, lauk berupa telur, tahu, sambal, serta sayuran dan jagung dalam wadah plastik terpisah. Namun, makanan utama tampak diletakkan langsung di atas kertas pembungkus, bukan di dalam wadah makan atau ompreng.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian penyajian makanan dengan standar operasional program MBG, khususnya terkait penggunaan wadah, kebersihan, keamanan pangan, dan pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mad Huri membenarkan bahwa menu dalam foto tersebut berasal dari dapurnya.
“Iya bener pak menu kami hari ini
Tapi kami dari dapur tidak pernah mengirim menu di bungkus seperti itu. Semua kami kirim menggunakan ompreng," kata Mad Huri saat dikonfirmasi, Selasa (13/10/2026).
Meski demikian, Mad Huri menyampaikan bahwa dapurnya saat ini telah menggunakan ompreng untuk penyajian makanan dan tidak lagi menggunakan kertas sebagai alas makanan.
Penerima Manfaat Pertanyakan Standar Penyajian
Seorang penerima manfaat yang meminta identitasnya dirahasiakan, turut memberikan keterangan mengenai menu yang diterima.
Menurutnya penyajian makanan perlu mendapat perhatian agar pelaksanaan program MBG tidak hanya berorientasi pada pembagian makanan, tetapi juga memastikan kebersihan, keamanan, dan kelayakan konsumsi.
Pengawasan Gizi dan Keamanan Pangan Perlu Diperketat
Program MBG tidak cukup dinilai dari keberadaan nasi, lauk, sayuran, dan buah atau komponen pangan lainnya. Kesesuaian porsi, kualitas bahan, keamanan pangan, kebersihan proses pengolahan, serta cara pengemasan dan distribusi juga menjadi aspek penting yang harus diperhatikan.
Penggunaan kertas sebagai alas makanan, sebagaimana terlihat dalam foto, perlu diperiksa lebih lanjut oleh pihak berwenang. Penilaian tidak dapat hanya didasarkan pada tampilan foto, melainkan harus mempertimbangkan jenis kertas, kebersihan, kemungkinan kontak langsung dengan makanan, serta standar teknis yang berlaku.
Pengawas gizi dan instansi yang berwenang diharapkan melakukan pemeriksaan apabila ditemukan indikasi ketidaksesuaian standar. Pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan kualitas menu, kecukupan gizi, sanitasi, dan keamanan pangan bagi seluruh penerima manfaat.
Transparansi Menjadi Kunci Pelaksanaan MBG
Pihak SPPG Yayasan Al-Aziz perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai standar menu, porsi makanan, penggunaan wadah, serta mekanisme pengawasan sebelum makanan didistribusikan.
Klarifikasi tersebut penting agar persoalan ini dapat dijawab berdasarkan fakta, bukan asumsi. Apabila ditemukan kekurangan, perbaikan perlu dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Program MBG merupakan upaya pemenuhan gizi masyarakat yang pelaksanaannya harus mengutamakan keselamatan penerima manfaat. Karena itu, pengawasan yang tegas, evaluasi berkala, dan keterbukaan penyelenggara menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.