Menurut Arif, pertumbuhan ekonomi juga dapat dibangun melalui keterhubungan sejumlah sektor dalam satu rantai nilai. Dengan begitu, potensi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri dapat saling memperkuat.

Ia menggarisbawahi lima agenda utama dalam penyusunan roadmap tersebut.

Pertama, pemerintah harus menetapkan sektor prioritas yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Pemilihan sektor dinilai penting agar anggaran, kebijakan dan sumber daya tidak tersebar tanpa arah yang jelas.

Kedua, pengembangan ekonomi harus diarahkan pada hilirisasi. Komoditas lokal diharapkan tidak terus-menerus keluar dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah lebih lanjut sehingga nilai ekonominya dapat dinikmati di daerah.

“Semakin banyak nilai tambah yang dapat dipertahankan di Kabupaten Sumenep, semakin besar pula peluang meningkatkan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja dan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” jelasnya.

Ketiga, strategi investasi harus dibuat lebih konkret. Roadmap nantinya diharapkan mampu memetakan jenis investasi yang diperlukan, sektor potensial, lokasi yang memungkinkan dikembangkan, kesiapan pemerintah, hambatan yang harus diselesaikan, hingga dukungan pembiayaan.

Keempat, penguatan UMKM tidak cukup berhenti pada pelatihan maupun pembinaan. Pelaku usaha lokal perlu didorong naik kelas melalui akses modal, pemanfaatan teknologi, digitalisasi, peningkatan mutu produk, sertifikasi, kemasan, pemasaran, serta peluang masuk ke rantai pasok berskala lebih besar.

Kelima, setiap agenda pembangunan harus mempunyai target dan pembagian tanggung jawab yang terukur. Mulai dari perangkat daerah pelaksana, jadwal, target capaian, kebutuhan anggaran hingga indikator keberhasilan harus dirumuskan secara jelas.

Bappeda Sumenep juga memasukkan program quick wins sebagai bagian penting dalam roadmap. Program tersebut diharapkan mampu menghadirkan dampak ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat dalam waktu relatif singkat.