SUMENEP, MaduraPost - Tradisi Sapi Sonok kembali menjadi pusat perhatian masyarakat dalam Festival Sapi Sonok Madura 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama Paguyuban Sapi Sonok Mega Remeng di GOR A. Yani Sumenep, Minggu (9/8/2026).
Agenda yang masuk dalam Calendar of Events Sumenep 2026 itu tak hanya menyuguhkan penampilan sapi-sapi betina dengan hiasan khas Madura. Pertunjukan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertahankan kesenian tradisional sekaligus mengenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat.
Sejumlah unsur Forkopimda, jajaran Polresta Sumenep dan Kodim 0827/Sumenep, Kepala Disbudporapar Sumenep Faruk Hanafi, serta pengurus Paguyuban Sapi Sonok Mega Remeng turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Pembukaan festival dilakukan Staf Ahli Bupati Sumenep, Hizbul Wathan, yang hadir mewakili Bupati Sumenep. Ia mengapresiasi para peternak dan seluruh pihak yang selama ini berperan dalam mempertahankan keberadaan Sapi Sonok.
Menurutnya, Sapi Sonok mempunyai makna lebih luas daripada sekadar ajang penampilan sapi betina. Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan masyarakat Madura dari generasi ke generasi.
“Sape Sonok adalah identitas dan warisan luhur masyarakat Madura, khususnya Sumenep. Di dalamnya terkandung nilai estetika, ketekunan para peternak, serta wujud kecintaan kita terhadap kearifan lokal,” ungkap Wathan, Minggu (9/8).
Suasana festival semakin semarak ketika puluhan Sapi Sonok memasuki arena dengan berbagai aksesori tradisional. Gerak langkah sapi yang tertata berpadu dengan iringan musik Saronen, menghadirkan pertunjukan khas yang menggambarkan karakter budaya Madura.
Sementara itu, Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruk Hanafi mengatakan, penyelenggaraan festival tersebut memiliki sejumlah sasaran. Salah satunya memastikan Sapi Sonok tetap mendapat ruang sebagai tradisi khas Madura yang mempunyai nilai budaya dan ciri tersendiri.
Selain itu, festival menjadi bentuk penghargaan kepada para peternak yang selama bertahun-tahun merawat sekaligus mempertahankan tradisi tersebut.
“Para pemelihara Sapi Sonok adalah orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi dalam menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman di Bumi Sumekar,” ujar Faruk.
Menurut Faruk, kegiatan tersebut juga dirancang agar memberikan manfaat langsung terhadap aktivitas ekonomi warga. Pemkab Sumenep menyediakan ruang bagi puluhan pelaku UMKM untuk menawarkan produk mereka di kawasan festival.
Kehadiran UMKM diharapkan membuat kegiatan budaya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi turut menciptakan perputaran ekonomi dan memperluas peluang usaha masyarakat.
Upaya menjaga warisan budaya juga ditunjukkan melalui pelibatan sejumlah kelompok kesenian tradisional. Salah satunya kelompok kleningan Putri Famili dari Grup Paras yang tampil mengiringi rangkaian pertunjukan.
Pemkab Sumenep juga memberikan dana stimulan kepada Paguyuban Sapi Sonok Mega Remeng sebagai bagian dari dukungan terhadap pembinaan dan keberlanjutan tradisi tersebut.
Faruk berharap festival yang mendapat sambutan positif dari masyarakat itu dapat terus dikembangkan sehingga Sapi Sonok menjadi salah satu daya tarik wisata budaya Sumenep, Madura, Jawa Timur.
“Harapan kita, antusiasme luar biasa terhadap festival ini dapat terus menjadi magnet pariwisata yang memperkuat identitas Sumenep, baik di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memberikan dampak terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat,” tandasnya.***