“Para pemelihara Sapi Sonok adalah orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi dalam menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman di Bumi Sumekar,” ujar Faruk.

Menurut Faruk, kegiatan tersebut juga dirancang agar memberikan manfaat langsung terhadap aktivitas ekonomi warga. Pemkab Sumenep menyediakan ruang bagi puluhan pelaku UMKM untuk menawarkan produk mereka di kawasan festival.

Kehadiran UMKM diharapkan membuat kegiatan budaya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi turut menciptakan perputaran ekonomi dan memperluas peluang usaha masyarakat.

Upaya menjaga warisan budaya juga ditunjukkan melalui pelibatan sejumlah kelompok kesenian tradisional. Salah satunya kelompok kleningan Putri Famili dari Grup Paras yang tampil mengiringi rangkaian pertunjukan.

Pemkab Sumenep juga memberikan dana stimulan kepada Paguyuban Sapi Sonok Mega Remeng sebagai bagian dari dukungan terhadap pembinaan dan keberlanjutan tradisi tersebut.

Faruk berharap festival yang mendapat sambutan positif dari masyarakat itu dapat terus dikembangkan sehingga Sapi Sonok menjadi salah satu daya tarik wisata budaya Sumenep, Madura, Jawa Timur.

“Harapan kita, antusiasme luar biasa terhadap festival ini dapat terus menjadi magnet pariwisata yang memperkuat identitas Sumenep, baik di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memberikan dampak terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat,” tandasnya.***