Menurut cucunya, Joko Pranoto, Sapi Sonok mulai dikenal sejak tahun 1950-an ketika Khairuddin mulai memberdayakan masyarakat setempat untuk memelihara sapi.
Ide untuk menciptakan kesenian ini berasal dari Khairuddin sendiri, yang didorong oleh dorongan masyarakat sekitar. Di tahun tersebut, Khairuddin mulai membangkitkan semangat masyarakat setempat untuk memelihara sapi.
"Sebenarnya motor atau penggerak lahirnya Sapi Sonok karena upaya dan dorongan masyarakat sekitar. Kalau gagasan lahirnya kesenian ini memang dari beliau," kata Kepala Desa Dempo Barat tersebut, Sabtu (27/4).
Ide ini bukanlah sekadar gagasan semata, tetapi merupakan dorongan dari kebutuhan akan pemulihan ekonomi dan budaya lokal.