Dalam pendidikan, perdebatan kurikulum seolah menjadi hal paling penting dibandingkan dengan esensi pendidikan untuk menghamba kepada murid. Kita ketahui bahwa pendidikan hanyalah sebuah pedoman metode.

Sebagai guru, kita yang memahami kondisi satuan pendidikan dan keadaan siswa untuk dibentuk menjadi iklim yang menyenangkan dalam pembelajaran. Sejatinya seorang guru dapat menanamkan pendidikan karakter serta penguatan sosial budaya dan mampu mengkontekstualisasikan

budaya lokal dalam pendidikan. Interaksi pendidikan sebagai tempat persemaian benih-benih kebudayaan.

Insersi pendidikan karakter ini diharapkan mampu membekali siswa dalam penguatan karakter dan jiwa sosialnya yang saat ini terbatasi oleh ruang dan waktu dalam menjalankan ketuntasan kurikulum.

Pendidikan dengan kurikulum merdeka harusnya menjadi akses untuk menularkan moralitas dengan membangun karakter berdasarkan profil pelajar Pancasila, dimana pendidikan saat ini menjadi ruang yang memberikan kesempatan bagi siswa dan

guru untuk berkembang.