Mendengar itu, Rasulullah semakin larut dalam kesedihan. Ia menatap jasad istrinya dan berkata dengan lirih:

"Wahai Khadijah, demi Allah, aku tak akan pernah mendapatkan istri sepertimu. Engkau telah mengorbankan segalanya untuk Islam. Namun, mengapa permohonan terakhirmu hanya selembar sorban?"

Siti Khadijah bukan hanya istri, tetapi juga sahabat dan pejuang. Ketika Rasulullah berdakwah dan menghadapi berbagai caci maki, Khadijah selalu berada di sisinya.

Saat semua harta mereka habis, bahkan makanan pun sulit didapat, Khadijah tetap tegar. Ketika menyusui putrinya, Fatimah, bukan air susu yang keluar, melainkan darah. Namun, ia tetap tersenyum dan berkata kepada suaminya:

"Wahai Rasulullah, dahulunya aku seorang bangsawan dan hartawan. Semua itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Kini aku tak punya apa-apa lagi," untainya.

"Tetapi engkau masih terus berjuang. Jika nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, maka galilah kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah jembatan agar engkau bisa terus berdakwah dan mengajak manusia kepada Islam," liriknya lagi.

Rasulullah menangis mendengar kata-kata itu. "Oh Khadijahku, kau meninggalkanku dalam perjuangan ini. Siapa lagi yang akan membantuku?"

Tiba-tiba, Ali bin Abi Thalib menjawab, "Aku, ya Rasulullah!"

Di samping jasad istrinya, Rasulullah mengangkat tangan dan berdoa: