“Saya dan tim masih fokus pemenangan atlet. Maaf,” katanya melalui pesan singkat.

Tidak ada laporan keuangan terbuka. Tidak ada transparansi. Yang tersisa hanyalah pertanyaan besar: ke mana larinya anggaran miliaran itu?

Sebagian pengamat menilai, peristiwa ini menjadi cermin buruknya tata kelola organisasi olahraga di daerah. Ketika anggaran besar disuntikkan dari APBD, tak ada jaminan uang itu benar-benar sampai ke tangan yang berhak. Apalagi dalam atmosfer yang minim pengawasan dan akuntabilitas.

“Ini bukan sekadar soal kasur tipis atau kamar mandi sempit,” ujar seorang akademisi olahraga di Sampang.

“Ini soal sistem yang tidak peduli pada prestasi, hanya pada formalitas anggaran.”

Dalam suasana Porprov yang seharusnya menjadi panggung pembuktian, para atlet Sampang justru diuji dengan tantangan yang bukan berasal dari lawan tanding, melainkan dari dalam rumah sendiri.