“Karena proses pendidikan di madrasah dan TPQ ini tidak berhenti. Maka, anggarannya juga perlu terus kita dorong agar bertambah dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan hanya tentang angka, tapi soal keberpihakan. Di Madura, di mana lembaga pendidikan Islam telah lama menjadi penyangga nilai dan jati diri masyarakat, keberpihakan seperti ini lebih dari sekadar simbol politik. Ia adalah bagian dari upaya panjang untuk memastikan bahwa anak-anak di pelosok desa tak tertinggal dalam hal akses dan kualitas pendidikan.
Di tengah keterbatasan, masih banyak guru yang mengajar tanpa upah tetap, hanya mengandalkan honor yang datang tak menentu. Madrasah masih berdiri tanpa fasilitas memadai. TPQ masih mengandalkan papan tulis tua dan kitab lusuh yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ra Huda mungkin bukan tokoh pertama yang berbicara tentang ini. Tapi jika benar ia mengawal hingga tuntas, maka langkahnya akan tercatat sebagai bagian dari perjuangan panjang para pendidik kampung—yang selama ini berjalan sunyi, namun terus menyalakan cahaya.