“Penting memberi kesadaran kepada siswa dalam merawat kebhinekaan, apalagi kita hidup di negara yang kaya akan adat, budaya, dan agama. Meski berbeda-beda, kita tetap satu dalam demokrasi,” ujarnya penuh semangat.

Sulaiman menekankan bahwa siswa perlu dibekali bukan hanya dengan ilmu pengetahuan, tapi juga nilai-nilai kebangsaan dan toleransi yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Selain kegiatan sosial dan religius, Disnatalis kali ini juga menjadi momentum bagi siswa untuk belajar dunia usaha. Dalam sebuah kegiatan bazar mini, para siswa diberi kesempatan untuk menjajal kemampuan berbisnis mulai dari memproduksi, memasarkan, hingga mengelola keuangan produk yang mereka jual.

“Dari situ siswa bisa memahami dan memanfaatkan cara berwirausaha, termasuk mengatur akuntansi sederhana dan manajemen keuangan,” tambah Sulaiman.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah kreativitas, tetapi juga sebagai pelatihan soft skill yang akan berguna dalam kehidupan setelah lulus sekolah.

Semarak Disnatalis ke-33 SMAN 1 Ketapang bukan sekadar seremonial, tetapi sebuah refleksi dari komitmen sekolah dalam mendidik generasi muda yang berjiwa toleran, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman.