Orang alim itu menjawab, 'Iya. Siapakah yang dapat menghalangi antara dirinya dengan taubatnya? Berangkatlah engkau ke suatu tempat (negeri), sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah SWT. Karena itu, beribadahlah dirimu bersama mereka, dan janganlah engkau kembali lagi ke negerimu, sebab itu adalah negeri yang jelek'.
Maka, ia pun berangkat. Namun sampai setengah perjalanan, ia menemui ajalnya Maka Malaikat azab dan Malaikat rahmat berselisih pendapat mengenai orang itu. Malaikat rahmat berkata, 'Ia telah datang dalam keadaan bertaubat, dan dengan hatinya ia telah bertolak menuju Allah SWT. Sedangkan Malaikat azab berkata, 'Sesungguhnya ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali!'
Kemudian mereka didatangi Malaikat dalam wujud seorang manusia, kemudian mereka menjadikan Malaikat ini sebagai penengah di antara mereka. Maka, Malaikat itu berkata, 'Ukurlah jarak antara kedua daerah itu! Maka, ke daerah mana ia lebih dekat kepadanya, itulah yang menjadi bagiannya'. Maka mereka pun melakukan pengukuran hingga akhirnya mereka mendapatkannya lebih dekat dengan daerah yang ditujunya, lalu ia pun diambil oleh Malaikat rahmat." (HR Bukhari dan Muslim).
Dari hadits diatas dapat Kita ambil hikmah bahwa sebesar apapun dosa yang kita lakukan, Namun kita menyadari dosa yang kita lakukan karena ketidak mampuan kita menghindari, dan ada niat yang tulus untuk bertaubat kepada Allah SWT, Maka pintu taubat akan selalu terbuka.
Sumber : Kitab Riyadhus Shalihin