SUMENEP, MaduraPost - Di antara riuh perdebatan soal alat tangkap ikan, nama Darul Hasyim Fath muncul sebagai salah satu figur yang memilih jalur berbeda.
Ia tidak sekadar menjadi pejabat daerah, tetapi juga mengambil posisi di barisan nelayan tradisional Kepulauan Masalembu yang menolak kehadiran cantrang.
Kisah tentang dirinya sempat diangkat dalam tulisan di Indonesiana Tempo, lalu kembali dipublikasikan dengan sudut pandang baru oleh MaduraPost. Intinya sama, tentang seorang anak pulau yang tetap setia pada laut dan warganya.
Saya menemuinya pada akhir Juli di Jakarta Selatan. Pertemuan itu tidak langsung menunjukkan bahwa ia berasal dari latar budaya yang berlapis.
Namun semakin dalam percakapan berjalan, semakin terlihat bagaimana identitasnya terbentuk dari percampuran Madura, Bugis, dan Mandar, tiga unsur yang juga hidup berdampingan di Masalembu.