Namun jalan hidupnya berbelok ketika kepercayaan publik mengantarnya duduk di DPRD Sumenep selama empat periode.
Alih-alih menjauh dari akar sosialnya, posisi itu justru membuatnya semakin dekat dengan persoalan di kampung halaman.
Salah satu yang paling membekas adalah konflik tahun 2014, ketika nelayan lokal berhadapan dengan nelayan luar yang menggunakan cantrang, alat tangkap yang kemudian dilarang pemerintah.
Sejak saat itu, Darul memilih sikap, berdiri bersama nelayan kecil. Bukan tanpa risiko, karena tekanan datang dari berbagai arah, termasuk pihak-pihak yang ingin tetap mengoperasikan alat tangkap tersebut.
Baginya, pilihan itu bukan sekadar sikap politik, melainkan soal menjaga kepercayaan. Ia menyebut prinsip siri’, nilai dalam tradisi Bugis tentang harga diri, sebagai pegangan utama. Sekali kepercayaan dilanggar, menurutnya, kehormatan pun ikut runtuh.