Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga mendapatkan sebuah buku karya Abrari yang berjudul Dialektika Rasa: Catatan dari Pinggir. Buku tersebut ditulis sendiri oleh Abrari dengan nama pena Abrari Alzael.
Buku tersebut memuat berbagai catatan reflektif penulis berdasarkan pengalaman yang ia temui langsung di lapangan.
Cerita di dalamnya merekam perjalanan Abrari sejak berprofesi sebagai jurnalis hingga akhirnya berada di lingkaran kekuasaan sebagai politisi.
Dalam pengantar bukunya, Abrari menjelaskan, bahwa sebagian isi tulisan memuat kritik yang disampaikan dengan gaya satir terhadap para pemegang kekuasaan yang dinilainya kerap melupakan rakyat kecil.
“Bahwa di dalam buku ini sedikit agak nyinyir bagi yang mengaku pemilik kuasa di negeri ini yang kadang lupa pada orang-orang kecil yang menyebabkannya besar, itu hanya bentuk visualisasi sarkastik, dan perhatian dalam bentuk yang lain, yang menjadi bagian dari kasih saya kepada semesta ini,” tulis Abrari dalam pengantar buku tersebut.***