Anak dikenalkan kosakata dari benda dan kegiatan yang akrab, membaca kalimat sederhana berbasis pengalaman lokal secara perlahan dan berulang, lalu berlatih membaca melalui kegiatan yang menyenangkan dengan pendampingan yang sabar dan berkelanjutan.
Pendekatan ini membantu anak belajar membaca secara lebih bermakna dan tidak menekan. Anak menjadi lebih berani mencoba, tumbuh rasa percaya diri, dan mulai menikmati proses belajar.
Sebaliknya, jika persoalan membaca terus diabaikan, ditambah penggunaan gawai yang tidak terkontrol, anak berisiko mengalami ketertinggalan belajar dan tekanan psikologis yang berdampak jangka panjang.
Karena itu, persoalan literasi dasar tidak bisa dibebankan kepada guru saja. Guru, orang tua, pemangku kebijakan, dan masyarakat perlu membangun kesadaran bersama bahwa keberhasilan literasi adalah tanggung jawab kolektif.