Anak-anak kini lebih akrab dengan layar dibandingkan buku, sehingga daya fokus menurun dan membaca kerap dianggap membosankan.
Berangkat dari kondisi tersebut, perlu ditegaskan pemahaman bersama bahwa setiap siswa sekolah dasar seharusnya sudah mampu membaca. Ketika kenyataan di lapangan belum sesuai harapan, inovasi pembelajaran menjadi sebuah keharusan.
Guru tidak cukup hanya menjalankan kurikulum, tetapi juga perlu menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan dunia anak.
Salah satu pendekatan yang relevan untuk wilayah seperti Kangean adalah pembelajaran literasi kontekstual berbasis lokal, yakni pembelajaran membaca yang berangkat dari pengalaman hidup, lingkungan, dan budaya sekitar siswa.
Dalam praktiknya, guru mengajak siswa mengenal huruf dan membaca melalui hal-hal yang mereka lihat dan alami setiap hari, seperti lingkungan alam, aktivitas orang tua, dan kebiasaan masyarakat setempat.