Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya tidak hanya pada prestasi belajar, tetapi juga pada psikologis anak, seperti munculnya rasa rendah diri, enggan berinteraksi, bahkan tidak bersemangat datang ke sekolah.
Beberapa faktor saling memengaruhi kondisi tersebut. Pertama, pembelajaran membaca di sekolah dasar masih banyak dilakukan dengan cara-cara konvensional, seperti mengeja dan menghafal, tanpa dikaitkan dengan kehidupan nyata anak.
Pendekatan ini sering terasa berat bagi anak-anak Kangean yang tumbuh dalam budaya lisan dan lingkungan alam yang khas. Kedua, dukungan orang tua di rumah masih perlu ditingkatkan.
Kebiasaan membaca tidak cukup dibangun di sekolah saja, tetapi membutuhkan pendampingan dan perhatian di lingkungan keluarga. Ketiga, penggunaan gawai yang tidak terkontrol turut memengaruhi minat belajar anak.