“Perpustakaan ini kami harap bisa jadi magnet kunjungan. Tidak hanya baca buku, tapi juga pusat pelatihan berbasis ekonomi bagi ibu-ibu, perempuan, hingga kelompok marginal,” jelas Joko.

Optimisme serupa datang dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangkalan, Ainul Gufron. Ia menegaskan, perpustakaan baru akan dipadukan dengan layanan digital melalui aplikasi e-Bacah, hasil kolaborasi anak lokal dengan Unesa.

“e-Bacah sudah kami siapkan. Ke depan akan kami galakkan agar masyarakat makin mudah mengakses bacaan,” ungkapnya.

Tak hanya mengejar operasional cepat, Bangkalan juga menargetkan lonjakan akreditasi. Saat ini perpustakaan berstatus B, dan ditargetkan melompat menjadi A pada 2026.