Berdasarkan kecurangan itu Abdurrahman Tahir mengaku sangat tidak percaya terhadap panitia penyelenggara tingkat kecamatan dalam melaksanakan pesta demokrasi. Bahkan, dirinya menilai pemilu kali ini dianggap gagal.


"Saya hanya ingin membuktikan kepada penitia penyelenggara dengan membuka kotak suara dengan mencocokkan C1 Plano dengan C1 KWK di setiap TPS se Dapil V," kata politisi alumni UINSA Surabaya itu. Senin (29/04/2019).


Akan tetapi, ketika dilakukan protes pada penghitungan di tingkat kecamatan saksi yang ia utus tidak dihiraukan bahkan diancam untuk disuruh keluar.


 "Coba saya ambil satu perbandingan saja C1-KWK di satu TPS saja untuk desa Jukong mendapatkan 25 suara, bagaimana dengan TPS yang, habis semua, hanya tersisa 27 suara di DA1," jelasnya.