"Dari bahan adonan yang dipakai dalam proyek tersebut menggunakan sirtu ( pasir batu ), dan setahu saya dalam campuran menggunakan pasir jawa atau pasir lokal bukan sirtu," rincinya.


"Kemudian dari tekhnik pembangunan juga sangat miris. Tataan batunya hanya separuh dari lebar yang dianjurkan pemerintah. Dan sigaran sebagai alas aliran airnya sudah banyak pecah namun masih tetap dipasang," imbuhnya.


Zainal juga sempat klarifikasi kepada Kepala Desa Panglegur namun mendapat respon yang kurang baik dan seolah menantang.


"Saya sebagai sosial kontrol hanya mencoba mengingatkan ke Kepala Desa agar segera mengganti bahan dan cara membangunnya. Namun saat dihubungi Kepala Desa malah menantang agar melaporkan pekerjaan ini kalau merasa ada yang salah," tegasnya.


Di akhir wawancara Zainal mengemukakan langkah berikutnya terkait jawaban yang diterima dari Kepala Desa Panglegur.