Bagi Soeharto media adalah senjata yang menyengsarakan rakyat. Sehingga dirinya tak ingin rakyat sengsara akibat berita media yang disajikan. Sebagai sosok yang mengawal kenyamanan rakyat maka saat itu media sedikit dibatasi untuk dikonsumsi rakyat. Dan hasilnya rakyat relatif lebih nyaman dibandingkan dengan rakyat masa sekarang.


Soeharto banyak didengungkan dan disanjung. Namun Soeharto mendapatkan karma ketika krisis finansial Asia banyak disuarakan oleh kalangan mahasiswa yang menjadi catatan dalam sejarah Indonesia tentang kerusuhan Mei 1998.


Atas lakonisasi mahasiswa Soeharto tak dapat meneruskan kekuasaanya akibat fakta dari berbagai pengamat bahwa selama 32 tahun lamanya Soeharto menjabat presiden terjadi penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi dan pelanggaran HAM.


Hal ini merupakan salah satu faktor berakhirnya era Soeharto. Kemudian Soeharto membacakan pidato terakhirnya dan sisa dari pucuk kepemimpinannya diserahkan kepada BJ Habibie.


Situasi alih kepemimpinan di atas adalah potret penggunaan demokrasi. Meski mengalami ketidakstabilan kekuasaan Indonesia tidak segampang dikuasai oleh orang-orang borjois. Bahkan para normal dari tanah jawa yang merupakan peramal tingkat kakap yang dipanggil Jayabaya bahwa bangsa ini akan di kuasai dengan sindikat sebuah nama ‘Notonogoro’.