SUMENEP, MaduraPost - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, tak lagi memandang gelaran wisata dan budaya sebatas agenda hiburan. Rangkaian event yang masuk dalam kalender daerah mulai diarahkan sebagai penggerak aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi mengatakan, penyelenggaraan berbagai acara menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat daya tarik pariwisata sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Faruk, kedatangan wisatawan membawa peluang bagi banyak sektor. Perputaran uang tak hanya terjadi di lokasi acara, tetapi juga bisa dirasakan pelaku UMKM, usaha kuliner, transportasi, penginapan, hingga ekonomi kreatif.
“Kalender event ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat,” ujar Faruk, Rabu (30/9).
Dari sisi kunjungan, geliat pariwisata Sumenep menunjukkan angka yang cukup besar. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, jumlah wisatawan yang datang ke kabupaten tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta orang.
Faruk menyebut angka itu menjadi gambaran bahwa Sumenep memiliki pasar wisata yang cukup luas. Potensi tersebut diperkuat dengan keberadaan destinasi alam dan budaya yang dipadukan dengan berbagai kegiatan berskala lokal hingga nasional.
Salah satu event yang dinilai mendongkrak kunjungan adalah Madura Culture Festival (MCF) 2026. Gelaran ini diproyeksikan menjadi salah satu titik keramaian yang mampu mengundang wisatawan dari dalam maupun luar Sumenep.
Faruk memperkirakan MCF 2026 dapat menyedot sekitar 150.000 pengunjung. Jumlah tersebut, kata dia, bukan sekadar target angka kehadiran. Pemerintah berharap lonjakan pengunjung ikut menciptakan transaksi bagi masyarakat yang berada di sekitar ekosistem pariwisata.
Wisatawan yang datang berpotensi mengeluarkan belanja untuk makanan, suvenir, transportasi, tempat menginap, hingga berbagai produk usaha lokal. Dengan begitu, sebuah event diharapkan meninggalkan manfaat ekonomi yang lebih panjang setelah acara berakhir.