Daerah  

Cuaca Buruk, Nelayan di Pasean Tak Berani Melaut

Avatar
Beberapa perahu nelayan terparkir di sungai Pasean tak berani melaut karena cuaca buruk. (foto: Mujahid Anshori)

PAMEKASAN, MaduraPost – Sejumlah nelayan di pesisir Kecamatan Pasean, Pamekasan, yang sebagian besar berasal dari dua desa yakni desa Tlontoraja dan Batukerbuy sudah berjalan seminggu tidak berani melaut akibat cuaca buruk.

Dari pantauan di lokasi, beberapa perahu nelayan terlihat menyandar di sungai. Juga tampak sejumlah nelayan yang sedang memperbaiki perahunya karena sedang tidak melaut akibat cuaca buruk.

Cuaca buruk memang sering terjadi di pertengahan bulan Desember sampai akhir bulan Januari, ombak besar dan angin kencang di tengah laut pada akhir-akhir ini sulit ditebak oleh nelayan. Meski cuaca di darat terlihat baik justru terkadang berbeda dengan cuaca yang terjadi di tengah laut.

BACA JUGA :  Ngajak Tidur Bareng, Advokat di Pamekasan Dilaporkan ke Polres Pamekasan

Eko salah satu dari nelayan yang kami temui mengatakan, ombak dengan ketinggian tidak seperti biasanya ditambah dengan angin yang sangat kencang membuat sejumlah nelayan khawatir dan tidak berani untuk melaut.

“Cuaca sekarang sulit ditebak mas, terkadang ombak dan angin kencang tiba-tiba datang,” kata Eko kepada wartawan, Rabu (05/01/2022).

Antisipasi yang dilakukan oleh nelayan disini, lanjut Eko, biasanya dengan melihat arah angin pada pagi hari dan sore hari. Meski begitu nelayan tidak langsung berangkat melaut, memastikan kondisi laut dengan bertanya kepada nelayan yang datang melaut sebelumnya.

BACA JUGA :  Kunker ke Madura, DPK HKTI Sampang Sambut KSP Moeldoko dengan Baliho Jumbo

“Biasanya kita melihat arah angin, jika angin dirasa dari arah timur maka itu baik. Tapi, juga menanyakan pada teman yg datang melaut bagaimana kondisi laut sekarang Baru setelah dirasa aman kita berangkat”, Ujarnya.

Banyaknya nelayan yang tidak berani melaut, berimbas pada hasil tangkapan ikan laut menurun. Akibatnya harga ikan laut mengalami kenaikan yang signifikan. Meski begitu, sementara harganya masih standar.

BACA JUGA :  Di Masa Pandemi, PAD Wisata di Sumenep Naik Hingga Rp 575 Juta