“Karena itu, persatuan dan gotong royong merupakan modal utama dalam mendorong kemajuan daerah, sehingga seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kerukunan, menghargai perbedaan, serta memperkuat kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat,” terangnya.
“Perbedaan merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama. Dengan semangat persatuan dan gotong royong, kita bisa membangun Kabupaten Sumenep menjadi daerah yang lebih maju dan sejahtera,” jelasnya menambahkan.
Bupati Fauzi juga menekankan bahwa tanggung jawab memajukan Sumenep tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah daerah.
Keberhasilan program pembangunan, kata dia, turut ditentukan oleh kesediaan masyarakat untuk terlibat dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
Dukungan tersebut dibutuhkan dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha, tokoh agama, tokoh masyarakat, kalangan pemuda, hingga kelompok masyarakat lainnya.
“Kemajuan Kabupaten Sumenep membutuhkan partisipasi seluruh pihak, karena pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat, dunia usaha, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta berbagai elemen lainnya,” tandasnya.
Di sisi lain, Prosesi Arya Wiraraja dan Festival Musik Tong-Tong KEN 2026 menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati sekaligus merawat kekayaan seni dan tradisi lokal. Kegiatan tersebut juga mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Bupati Fauzi berharap, semangat yang tumbuh selama perayaan Hari Jadi Sumenep dapat berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Ia ingin persatuan dan budaya gotong royong menjadi landasan bersama untuk membawa daerah menuju masa depan yang lebih baik.
“Kami mengharapkan semangat persatuan, kebersamaan, dan gotong royong semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat demi mewujudkan Kabupaten Sumenep unggul, mandiri dan sejahtera,” pungkas Bupati Fauzi.***