“Terus salah seorang keluarga kami tanya ‘Apakah dari pihak BHC siap untuk mengaku salah dalam kejadian ini?’ dan mereka tidak bisa menjawab. Mereka hanya bilang ‘Ini setelah investigasi internal akan memberikan penjelasan resmi kepada keluarga’,” jelasnya.
Keluarga turut menggali kemungkinan adanya keterlibatan tenaga medis yang menangani Firman. Menurut Y, pihak rumah sakit menyatakan persoalan tersebut akan diproses berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.
“Jawaban mereka, ‘Tentunya kami akan proses secara hukum sesuai perundang-undangan yang ada.’ Keluarga kami juga tanya ‘Bagaimana bila misalnya kematian Firman akibat dokter dan perawat yang menangani?’ Jawaban mereka, ‘Kami akan tetap proses sesuai perundang-undangan yang berlaku,'” ujarnya.
Dalam kunjungan itu, pihak RS BHC diwakili Manajer Humas dan Marketing Sandra Rahestri bersama seorang rekannya. Mereka datang membawa sejumlah bahan kebutuhan pokok untuk keluarga yang sedang berduka.
“Mereka ke sini membawa beras, minyak goreng dan mi instan sebagaimana orang takziah atau melayat,” papar Y.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep belum memberikan keterangan substantif mengenai kematian Firman.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, Ellya Fardasah mengatakan, pihaknya masih perlu memastikan informasi tersebut kepada jajaran dinas sebelum menyampaikan tanggapan lebih jauh.
“Kami masih mau memastikan dulu ke teman-teman di dinas. Mohon maaf belum bisa berkomentar banyak,” ujarnya.
Ellya menyebut pengawasan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan di Sumenep dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya terhadap satu rumah sakit tertentu.