Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan jawaban berdasarkan rekam medis, keterangan tenaga kesehatan, serta pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah Firman meninggal, keluarga mendatangi ruang perawat untuk meminta penjelasan. Mereka tidak memahami bagaimana pasien yang sebelumnya disebut membaik justru meninggal setelah menjalani tindakan medis.
"Kami tanyakan ke perawat 'Kenapa pasien yang semalam sudah dipastikan hari ini pulang setelah disuntik malah meninggal'. Padahal sebelum disuntik, D masih main HP dan kemungkinan akan segera sembuh," ungkap Roni.
Keluarga menduga kematian Firman berkaitan dengan obat yang diberikan sebelum kondisinya memburuk. Mereka juga mempertanyakan apakah pemeriksaan ulang dilakukan sebelum suntikan diberikan.
"Kami menduga D mengalami keracunan atau overdosis akibat obat yang disuntikkan perawat. Karena, setelah komunikasi dengan beberapa orang dengan melihat gejala yang dialami D sebelum meninggal, kemungkinan keracunan obat," paparnya.
Dugaan keracunan atau overdosis tersebut belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan medis. Demikian pula dugaan kelalaian petugas masih membutuhkan penelusuran untuk mengetahui apakah tindakan yang diberikan telah sesuai prosedur.
Namun, ketidakpastian itu justru membuat penjelasan resmi rumah sakit semakin penting. Publik membutuhkan informasi mengenai kronologi kejadian dan langkah yang ditempuh manajemen untuk menelusuri persoalan tersebut, bukan sekadar spekulasi yang berkembang di media sosial.
MaduraPost telah berupaya meminta konfirmasi kepada Direktur RS BHC Sumenep, dr. Tedjo Wahyu Putranto, melalui sambungan WhatsApp. Pesan konfirmasi dikirim beberapa kali pada Rabu, tetapi hingga berita ini disusun belum mendapat respons.
Belum adanya jawaban dari direktur rumah sakit membuat pertanyaan keluarga mengenai penanganan Firman belum memperoleh klarifikasi dari pihak manajemen melalui jalur konfirmasi yang ditempuh redaksi.