Namun, perayaan Hari Jadi Sumenep tak hanya bertumpu pada kemeriahan festival. Sejumlah agenda lain turut mengangkat sisi historis dan tradisi yang membentuk identitas daerah, termasuk Haul Raja-Raja Sumenep serta prosesi Arya Wiraraja.
Ketiga agenda itu menghadirkan warna berbeda dalam satu rangkaian peringatan. Musik Tongtong menawarkan pertunjukan seni yang meriah, sementara haul para raja dan prosesi Arya Wiraraja mengajak masyarakat menengok kembali perjalanan sejarah Sumenep.
Bagi Faruk, perpaduan kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan pelestarian tradisi dengan pengembangan pariwisata.
Kekayaan budaya daerah diharapkan tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian pengunjung dari berbagai wilayah.
Ia menekankan, keberhasilan sebuah acara budaya tidak semata-mata diukur dari ramainya penonton ketika berlangsung.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan, mulai dari memperkuat kebanggaan terhadap warisan leluhur hingga mendorong perputaran ekonomi warga.
“Harapan kami, kegiatan budaya seperti ini terus mendapat dukungan masyarakat. Selain menjaga warisan leluhur, kita ingin semakin banyak orang mengenal Sumenep melalui kekayaan seni, sejarah, dan tradisinya,” tandasnya.
Dengan mempertahankan agenda budaya sebagai bagian dari perayaan hari jadi, Pemkab Sumenep berharap kekayaan tradisi daerah dapat menjadi daya tarik yang terus tumbuh.
Tantangannya, kemeriahan acara perlu diikuti promosi yang berkelanjutan agar manfaatnya tidak berhenti ketika perayaan usai.***