Menurut Ibnu, media memiliki idealisme sekaligus realisme dalam menjalankan bisnisnya. Ia menyebut sejak era Orde Baru hingga Reformasi, media memiliki ketergantungan terhadap anggaran pemerintah dan sektor swasta.
“Media itu mempunyai idealisme dan realisme. Sekarang beruntunglah teman-teman wartawan sudah bisa membangun rumah, menghimpun, dan harus bisa membangun koneksi kepada birokrasi,” katanya.
Ibnu juga mendorong PWRI Sumenep membangun ekosistem media yang sehat. Salah satu hal yang menurutnya tidak boleh ditinggalkan adalah manajemen sumber daya manusia.
“Dengan adanya PWRI di Sumenep, mari kita ciptakan media yang sehat. Manajemen media yang tidak boleh ditinggalkan adalah harus punya HRD,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bagi wartawan. Menurutnya, sertifikat kompetensi menjadi bukti bahwa seorang wartawan telah melalui proses pengujian, tetapi sertifikat saja tidak cukup.
“Sertifikat UKW adalah bukti bahwa kamu diuji. Tapi tulisanmu harus profesional,” katanya.
Ibnu mengaku masih menemukan sejumlah produk pemberitaan media online di Sumenep yang menurutnya belum memenuhi standar karya jurnalistik.
“Saya sering mengikuti tulisan media online di Sumenep. Ada yang jauh dari produk atau karya jurnalistik. Makanya dalam manajemen pemberitaan, seorang pemimpin redaksi harus punya skala prioritas untuk menulis berita,” ujarnya.
Ia juga memberikan masukan agar PWRI Sumenep memiliki ruang ekspresi bagi anggotanya. Salah satunya melalui website atau media online yang dapat menjadi wadah publikasi karya sekaligus membuka peluang pengembangan organisasi.