SUMENEP, MaduraPost - Mandalika akan menjadi titik temu dua dunia yang berbeda pada Oktober mendatang. Deru mesin motor balap akan berdampingan dengan bunyi tongtong, musik tradisional yang lekat dengan kehidupan masyarakat Madura.
Tongtong Angin Ribut asal Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mendapat kesempatan tampil dalam Rider Parade MotoGP Mandalika 2026 pada 7 Oktober.
Kehadiran kelompok seni ini membawa satu pesan sederhana: tradisi lokal juga bisa ikut berbicara di tengah panggung olahraga dunia.
Selama ini, tongtong dikenal sebagai salah satu kesenian khas Madura. Bunyi-bunyinya lahir dari instrumen sederhana dan berkembang menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat. Kini, musik tersebut akan dibawa keluar dari panggung lokal menuju sebuah perhelatan yang ditonton masyarakat dari berbagai penjuru.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, melihat kesempatan itu sebagai lebih dari agenda pertunjukan.
“Bukan sekadar ajang MotoGP biasa. Saat mesin-mesin motor meraung, suara tongtong Madura juga bersiap menggema,” kata Faruk, Rabu (30/9).
Bagi Sumenep, tampil di Mandalika membuka ruang untuk memperkenalkan identitas daerah melalui cara yang berbeda. Bukan lewat promosi dalam bentuk slogan, melainkan melalui bunyi, pertunjukan, dan tradisi yang dibawa langsung oleh para pelakunya.
Tongtong Angin Ribut pun disiapkan untuk tampil di tengah suasana parade yang penuh energi. Pertemuan antara musik tradisional dan iring-iringan pebalap diharapkan menciptakan warna tersendiri dalam rangkaian MotoGP Mandalika tahun ini.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep juga melihat panggung tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan budaya. Sebab, mempertahankan kesenian tradisional tidak selalu berarti membawanya tetap berada di tempat asal. Membuka akses ke ruang-ruang baru juga menjadi cara agar tradisi tetap dikenal.
Sementara itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, kebudayaan memiliki posisi penting dalam membentuk identitas sebuah daerah.
“Kebudayaan merupakan identitas yang harus terus dirawat, sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat luas,” ujar Bupati Fauzi.
Kesempatan tampil di Mandalika sekaligus memberi keuntungan lain bagi Sumenep. Para penonton yang sebelumnya mungkin tidak mengenal tongtong dapat melihat langsung salah satu bentuk kesenian yang tumbuh dari tradisi Madura.
Dari Sumenep, musik itu akan dibawa ke Lombok. Dari ruang budaya lokal, tongtong mendapat kesempatan hadir di tengah parade pebalap kelas dunia.
Pada akhirnya, yang dibawa Tongtong Angin Ribut ke Mandalika bukan hanya pertunjukan. Ada cerita tentang Madura, tradisi yang terus bertahan, dan upaya memperkenalkan identitas lokal melalui sebuah panggung yang berbeda.***