Diskusi tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum membedah buku. Masalembu ditempatkan sebagai pintu untuk membaca kembali Sumenep dari perspektif kepulauan, wilayah yang bukan hanya memiliki persoalan, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya, perjumpaan masyarakat, dan cerita tentang bagaimana sebuah peradaban tumbuh di tengah laut.

Bagi generasi muda, percakapan semacam ini menjadi kesempatan untuk mengenal kepulauan Sumenep dengan cara yang lebih utuh: bukan melalui stigma, melainkan lewat cerita dan pengalaman masyarakat yang hidup di dalamnya.***