Latar belakang keluarga yang sederhana justru menjadi motivasi terbesar dalam hidupnya. Ayahnya bekerja sebagai tukang ojek dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi tersebut membuat Fatimatus memahami bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik untuk mengubah masa depan keluarganya.

Ia tidak ingin menjadi beban bagi kedua orang tuanya.Sebaliknya, ia ingin menjadi anak yang mampu membantu meringankan perjuangan mereka.

Di tengah berbagai keterbatasan, semangat belajarnya tidak pernah surut. Ia tetap aktif mengikuti pelajaran di sekolah, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan memanfaatkan waktu luang untuk memperdalam materi yang akan diujikan dalam seleksi masuk perguruan tinggi.

Hasilnya pun tidak mengecewakan.

Selain dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik SMA Al Arifin, Fatimatus juga berhasil melewati seleksi ketat hingga diterima sebagai mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.

Bagi dirinya, pencapaian tersebut bukan sekadar kebanggaan pribadi, melainkan hadiah terindah untuk kedua orang tuanya yang selama ini telah berjuang tanpa mengenal lelah.

“Saya sadar sejak awal bahwa keadaan ekonomi keluarga kami sangat sederhana. Ayah bekerja sebagai tukang ojek sehingga saya tidak ingin terus bergantung kepada orang tua. Karena itu saya memilih bekerja sambil sekolah agar bisa membantu memenuhi kebutuhan pendidikan saya sendiri,” ujar Fatimatus dengan mata berkaca-kaca.

Menurutnya, menjalani dua peran sekaligus sebagai pelajar dan pekerja memang bukan perkara mudah.

Ada kalanya rasa lelah datang setelah seharian mengikuti pelajaran di sekolah dan kemudian harus melanjutkan pekerjaan hingga hingga malam. Namun, ia selalu mengingat tujuan besarnya.