"Kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini. Minggu lalu udah masuk, tapi hanya sedikit. Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi, sehingga pasar obligasinya terkendali," ucapnya.
Ia berharap strategi tersebut dapat meredam aksi jual investor asing di pasar obligasi, terutama karena kekhawatiran capital loss akibat penurunan harga surat utang.
"Asing yang pegang obligasi nggak keluar, karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," ujar Purbaya.
Tekanan terhadap rupiah memang kian terasa dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan media ini melalui data Bloomberg, hingga pukul 12.00 WIB rupiah tercatat di level Rp17.676 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 80 poin atau 0,45 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sejak pembukaan perdagangan pagi, rupiah sudah berada di kisaran Rp17.630 per dolar AS, turun 33 poin dari hari sebelumnya. Angka ini bahkan melampaui titik terendah saat krisis moneter 1998 yang kala itu sempat menyentuh sekitar Rp16.800 per dolar AS.***