PAMEKASAN, MaduraPost – Air mata Bunga (nama samaran) menetes saat menceritakan kembali kisah hidupnya. Mahasiswi asal Desa Pakong, Kabupaten Pamekasan ini tak pernah menyangka bahwa perkenalannya dengan seorang pria lewat WhatsApp akan mengubah hidupnya menjadi mimpi buruk.
Awalnya, komunikasi mereka berjalan wajar. Hingga suatu hari, kyai muda yang merupakan putra da'i kondang inisian AH mengajaknya bertemu dan melontarkan rayuan yang membuat Bunga percaya.
“Dia bilang kalaupun hamil, dia akan tanggung jawab. Saya percaya karena saya pikir dia orang baik,” ujar Bunga dengan suara bergetar.
Beberapa bulan kemudian, Bunga dinyatakan hamil 5 bulan. Keluarganya meminta pertanggungjawaban, dan AH datang membawa janji manis, menikah siri dulu, lalu dalam 2–3 hari akan langsung dicatatkan di KUA.
“Saya cuma ingin anak saya lahir dengan status jelas. Saya mau semuanya resmi,” kenangnya.