ARTIKEL, MaduraPost - Siapa sebenarnya yang pantas disebut sebagai Guru? Apakah semua orang yang memiliki profesi mengajar? Memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai guru? Atau siapapun yang mengajar murid dan menyampaikan beberapa bidang ilmu?
Beberapa pertanyaan ini seakan membangunkan saya yang tengah terlena dengan pekerjaan ini, datang ke sekolah, berdiri didepan kelas, mengajar sesuai jadwal, menjalankan kurikulum. Seolah kegiatan ini membuat saya merasa sebagai seorang guru.
Ketika wacana kurikulum baru muncul, maka kami berlomba untuk mencoba mempelajari, mendalami bahkan melakukan uji kaji sebagai eksperimen kesesuaian.
Hal ini mungkin persentasenya lebih tinggi dibandingkan ketika belajar mendalami kepribadian masing-masing siswa diawal pembelajaran sebagai bentuk transisi dari kelas sebelumnya. Ironisnya, upaya ini dianggap sebagai hasil akhir untuk memahami karakter siswa. Penggunaan asesmen diagnostik seolah menjadi gambaran akhir kemampuan siswa.
Sehebat itu guru, seketika menjadi psikoterapis, konselor atau bahkan sebagai dokter. Dengan analisa awal untuk menyiapkan obat berwujud metode atau teknik pembelajaran. Melalui cara yang beragam, seolah menjadi dosis terbaik.