Sebagai guru, dalam menjalankan pembelajaran setidaknya harus mengutamakan SOP, mengesampingkan kepolosan murid. Karena tujuan akhirnya adalah ketercapaian kurikulum. Secara linguistik berarti keadaan demikian dapat disebut sebagai seorang guru. Lalu kepantasan diri sebagai seorang guru apakah hanya cukup dengan mengajar sesuai kurikulum, keadaan ini membuat saya berpikir hanya sebagai robot pendidikan berlabel guru. Nama yang menjadi tempat persembunyian selama ini.
Awalnya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa sangat membanggakan, munculnya kompensasi terhadap kontribusi guru membuat sebutan ini memudar. Kebijakan tunjangan profesi, seolah sebagai upaya mencapai kesejahteraan guru. Mirisnya kompensasi ini dianggap tidak memberikan perubahan terhadap kondisi pendidikan di Negeri ini. Konsepsi seorang guru hanya sebagai penonton pendidikan, bukan sebagai pelaku utama tujuan pendidikan.
Usaha dan upaya yang dilakukan juga seolah hanya mengejar kurikulum, bukan mengejar harapan siswa, memahami kepolosan masing-masing siswa, menyayangi siswa yang belum mampu memahami pembelajaran, menyediakan waktu lebih untuk membimbing siswa, bersedia secara totalitas atau menjadi guru secara kaffah.
Saya ingin menjadi guru yang tidak terbatas pada dinding kelas, yang hanya memperlakukan siswa sebagai peserta didik yang hanya diberikan pendidikan tanpa mempedulikan kebutuhannya. Ingin menjadi guru yang sebenarnya tanpa stereotip kepada siswa.