Menurutnya, rakyat selama ini terpaksa bergotong royong memperbaiki jalan secara swadaya, sementara muncul kabar dana pemerintah digunakan untuk kepentingan lain.

“Masyarakat Pamekasan harus patungan dan bahkan mengemis di pinggir jalan demi memperbaiki jalan rusak. Maka wajar jika isu ini memicu kemarahan publik,” ujarnya.

Ahmadi menambahkan, meskipun nilai virtual gift tersebut mungkin tidak besar bagi pejabat, namun bagi masyarakat anggaran tersebut sangat berarti jika dialokasikan untuk kebutuhan dasar.

“Kalau uang itu dipakai beli semen saja, sudah sangat membantu warga,” katanya.***