Keluhan warga bukan semata soal debu, kebisingan, dan aktivitas kendaraan pengangkut material. Mereka mulai merasakan dampak yang lebih serius, yakni kekhawatiran akan pergeseran tanah di sekitar tempat tinggal.
“Setiap hari kami dihantui rasa takut. Jarak rumah dengan galian sangat dekat. Kalau tanahnya terus dikeruk, bukan tidak mungkin pondasi rumah retak atau ambles. Kalau sampai longsor, kami yang pertama kena,” tutur warga lainnya.
Keresahan itu makin beralasan setelah jalan raya di desa tersebut sempat ambles dan belum diperbaiki hingga kini. Warga menduga kerusakan itu berkaitan dengan aktivitas pengerukan tanah di sekitar lokasi tambang.
Ingatan warga juga masih segar pada insiden tambang yang terjadi di wilayah Kecamatan Pragaan. Pada Jumat, 13 Februari 2026, sebuah mobil pikap dilaporkan terperosok ke jurang bekas galian di Dusun Kembang, Desa Rombasan.